PANTAU FINANCE– Mathla’ul Anwar bukan sekadar organisasi pesantren. Dengan usia lebih dari satu abad, peranannya kini makin strategis dalam pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat di Lampung.
Musyawarah Wilayah VI Mathla’ul Anwar Lampung 2025 digelar di Ballroom Soeltan Luxe Hotel, Bandar Lampung, dibuka oleh Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Provinsi Lampung, Ganjar Jationo, mewakili Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal.
Gubernur Apresiasi Peran Mathla’ul Anwar
Dalam sambutan yang dibacakan Ganjar, Gubernur Mirza menyampaikan apresiasi tinggi terhadap kontribusi Mathla’ul Anwar di bidang pendidikan dan dakwah.
“Musyawarah ini jadi momen refleksi sekaligus revitalisasi niat untuk bangkit. Tidak harus dimulai dari mimpi besar, tapi dari langkah-langkah kecil yang diilhami iman, ilmu, dan amal,” ujar Ganjar.
Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah membuka ruang kolaborasi dengan organisasi keagamaan untuk mempercepat pembangunan di Lampung. Beda karakter atau tupoksi tidak jadi penghalang untuk berkontribusi bagi daerah.
Desa dan Energi Terbarukan
Ganjar menyoroti peran ormas Islam dalam pembangunan pedesaan. Program strategis nasional kini diarahkan langsung ke desa, termasuk ketahanan pangan, energi, dan ekonomi lokal.
Salah satu contohnya adalah peningkatan nilai jagung melalui mesin pengering mini antar-desa. Jika kadar air jagung terkontrol, harga bisa naik dari Rp3.800 menjadi Rp5.000 per kilogram, sehingga uang hasil panen tetap berputar di desa dan menggerakkan koperasi lokal.
Selain itu, pemerintah pusat mendorong desa menjadi pusat energi baru terbarukan dengan target pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) minimal satu hektar per desa. Dengan 80 ribu desa yang memiliki satu hektar PLTS, energi yang dihasilkan bisa mendukung swasembada energi nasional.
Pendidikan dan Dakwah yang Relevan
Ketua 1 Bidang Pembinaan Daerah PB Mathla’ul Anwar, Dr. KH. Abdul Hakim, menyatakan bahwa organisasi ini memiliki tanggung jawab besar dalam menjawab tantangan zaman.
“Mathla’ul Anwar harus aktif meningkatkan mutu guru, kepala sekolah, dan modernisasi sistem pembelajaran yang memadukan nilai Islam dengan sains dan teknologi,” ujar Abdul Hakim.
Dakwah sosial juga menjadi fokus untuk menangani kemiskinan, pengangguran, krisis keluarga, dan radikalisme. Mathla’ul Anwar diharapkan menjadi motor penggerak lahirnya generasi berilmu, beriman, dan berakhlak mulia menuju Indonesia Emas 2045.
Prestasi Santri Lampung Mendunia
Ketua PW Mathla’ul Anwar Lampung, Muhammad Isa, menjelaskan bahwa organisasi ini membawahi 14 perguruan, 99 madrasah dan sekolah, serta 10 pondok pesantren. Meski ada kendala dana dan regulasi, prestasi santri tetap membanggakan, salah satunya santri Lampung Selatan yang diterima di Universitas Cambridge, Inggris, melalui beasiswa LPDP.
Muhammad Isa berharap pemerintah provinsi mendukung penuh revitalisasi madrasah dan pondok pesantren agar terus berkontribusi dalam pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan umat.
Momentum Kebangkitan Mathla’ul Anwar
Musyawarah Wilayah VI di Lampung menjadi momentum kebangkitan organisasi yang telah lebih dari satu abad berperan dalam pendidikan Islam di Indonesia. Pemerintah Provinsi Lampung melihat Mathla’ul Anwar sebagai mitra strategis dalam memperkuat SDM, menggerakkan ekonomi desa, dan membangun masyarakat Lampung yang berdaya saing.
Dengan kolaborasi yang tepat, Mathla’ul Anwar dan Pemprov Lampung siap menjadi kunci menuju Indonesia Emas 2045.***











