• Redaksi
  • Tentang Kami
Saturday, October 10, 2026
  • Login
Pantaufinance.com
Advertisement
  • Beranda
  • Berita
  • Berita Keuangan
    • Keuangan Pribadi
    • Pendidikan Keuangan
    • Teknologi Keuangan
  • Bisnis dan Kewirausahaan
  • Infrastruktur
  • Investasi
  • Network
  • Indeks
No Result
View All Result
Pantaufinance.com
  • Beranda
  • Berita
  • Berita Keuangan
    • Keuangan Pribadi
    • Pendidikan Keuangan
    • Teknologi Keuangan
  • Bisnis dan Kewirausahaan
  • Infrastruktur
  • Investasi
  • Network
  • Indeks
No Result
View All Result
Pantaufinance.com
No Result
View All Result
  • Indeks
  • Berita Keuangan
  • Bisnis dan Kewirausahaan
  • Investasi
  • Keuangan Pribadi
  • Pendidikan Keuangan
  • Teknologi Keuangan
Home Berita

Kritik Sastra Marxis atas Puisi Muhammad Alfariezie: Potret Ironi Rakyat dalam Bayang Kapital dan Kekuasaan

MeldabyMelda
October 8, 2025
in Berita
A A
Kritik Sastra Marxis atas Puisi Muhammad Alfariezie: Potret Ironi Rakyat dalam Bayang Kapital dan Kekuasaan
ADVERTISEMENT

PANTAU FINANCE– Puisi “Sembilan Miliar Kebodohan Kita” karya Muhammad Alfariezie memunculkan sorotan tajam terhadap realitas sosial-politik yang lahir dari ketimpangan ekonomi, praktik korupsi struktural, dan dominasi elit birokrasi. Dengan diksi satir dan sindiran yang tajam, penyair asal Bandar Lampung ini menghadirkan refleksi kritis tentang bagaimana kekuasaan seringkali menindas rakyat melalui kebijakan dan regulasi yang berpihak pada kepentingan pribadi elit, bukan pada kesejahteraan masyarakat luas.

Puisi: Sembilan Miliar Kebodohan Kita

Skandal harus tersingkir!
Bukan iri tapi karena peduli
harga satu regulasi bikin
kita gigit jari

BeritaTerkait

Polemik FKKS Lampung Tengah: Dialog Dibuka, Klarifikasi Ketua MKKS Dinanti

Temuan Artefak dan Cerita Metafisik Warnai Penelusuran Situs Bersejarah di Bandar Lampung

Jangan Lupakan Akar Budaya, SMK Mathla’un Nur Hidupkan Semangat Melestarikan Batik

Satu regulasi seharga tiga
mobil mewah bawaan kepala
sekolah! Bayangkan cuma
cuma bagi warga pra
sejahtera

Tapi kita bodoh lebih lagi malas
walau sebatas membayangkan

Kita justru senang susah payah
membopong-gelar karpet
merah untuk wali kota bikin
sekolah

Sekolah yang telah nyata
tidak peduli sembilan miliar

Bayangkan betapa kita
bodoh! Senang pula
membaca berita: “wali kota
bikin sekolah swasta untuk
keluarganya bahagia”

Bayangkan betapa kita
bodoh! 9 miliar sia-sia
ditambah dana hibah
untuk sekolah atas
namanya merogoh kas
negara

Bandar Lampung, 2025

Kritik Sosial dan Latar Belakang Puisi

Dari bait pertama, puisi ini langsung menegaskan posisi kritis penyair terhadap tatanan kekuasaan yang ada:

“Skandal harus tersingkir!
Bukan iri tapi karena peduli
harga satu regulasi bikin
kita gigit jari.”

Diksi “harga satu regulasi” menyingkap fenomena komodifikasi kebijakan publik, di mana peraturan pemerintah bukan lagi instrumen untuk melayani masyarakat, tetapi menjadi barang dagangan yang bisa dimanfaatkan atau dibeli oleh elit penguasa. Perspektif Marxis melihat ini sebagai bukti bagaimana state apparatus atau alat negara berfungsi untuk kepentingan kelas penguasa, sementara rakyat biasa terpinggirkan. Regulasi kehilangan nilai sosialnya dan berubah menjadi alat akumulasi kapital bagi segelintir elit.

Korupsi, Ketimpangan, dan Eksploitasi Birokrasi

Bait-bait selanjutnya mengkritik jelas ketimpangan sosial dan gaya hidup mewah pejabat publik:

“Satu regulasi seharga tiga
mobil mewah bawaan kepala
sekolah! Bayangkan cuma
cuma bagi warga pra sejahtera.”

Gambaran ini menunjukkan jurang sosial yang mencolok antara elit birokrasi dan rakyat miskin. Kepala sekolah yang memiliki “mobil mewah” menjadi simbol nyata bagaimana kapitalisme birokratis menguasai institusi publik, menjadikan pendidikan sebagai sarana reproduksi ketimpangan sosial alih-alih pembebasan. Dalam konteks Marxis, ini adalah contoh eksploitasi sistemik, di mana aset publik dimanfaatkan untuk keuntungan pribadi, bukan kesejahteraan rakyat.

Rakyat Pasif dan Kesadaran Palsu

Puisi ini tidak hanya mengkritik elit penguasa, tetapi juga rakyat yang diam, pasrah, dan cenderung ikut melanggengkan ketidakadilan:

“Tapi kita bodoh lebih lagi malas
walau sebatas membayangkan.”

Konsep “false consciousness” dalam teori Marxis muncul di sini, menandai kesadaran palsu rakyat yang tertipu oleh ideologi penguasa. Alih-alih menyadari penindasan yang mereka alami, rakyat sering menikmati simbol-simbol kekuasaan:

“Kita justru senang susah payah
membopong-gelar karpet merah
untuk wali kota bikin sekolah.”

Penyair menyoroti bagaimana rakyat menjadi alat legitimasi bagi sistem yang menindas mereka sendiri, mencerminkan perlunya kesadaran kelas (class consciousness) agar mereka bisa menuntut keadilan nyata.

Ironi Kekuasaan dan Pemanfaatan Dana Publik

Bait akhir puisi mengungkap ironi dan eksploitasi ekonomi secara sistemik:

“Bayangkan betapa kita
bodoh! 9 miliar sia-sia
ditambah dana hibah
untuk sekolah atas
namanya merogoh kas
negara.”

Nominal “9 miliar” menjadi simbol eksploitasi publik. Dana yang seharusnya digunakan untuk kesejahteraan rakyat justru diselewengkan untuk proyek pribadi elit. Dalam perspektif Marxis, ini adalah bentuk surplus value yang diekstraksi dari kas negara, bukan dari buruh industri, yang menandai bentuk baru penindasan kelas melalui pemanfaatan struktur pemerintahan.

 Puisi sebagai Alat Perlawanan

Puisi “Sembilan Miliar Kebodohan Kita” tidak hanya berfungsi sebagai karya sastra, tetapi sebagai alat perjuangan ideologis yang menyingkap wajah kapitalisme birokratis dan ketidakadilan sosial. Dengan gaya bahasa yang sederhana namun tajam, Alfariezie menelanjangi realitas penindasan rakyat oleh kekuasaan dan kapital.

Karya ini mendorong lahirnya kesadaran baru bahwa keadilan sosial tidak akan datang dari simbol-simbol kekuasaan seperti karpet merah atau pembangunan selektif, tetapi dari rakyat yang sadar akan posisi mereka, mampu berpikir kritis, dan berani bertindak. Puisi ini menjadi cermin perlawanan, menyeru masyarakat untuk tidak lagi pasif dalam menghadapi ketimpangan dan eksploitasi sistem.

Source: ALFARIEZIE
Tags: analisis sastraketimpangan sosialkorupsi birokrasikritik marxisliteratur Indonesiamuhammad alfarieziependidikan dan kekuasaanpuisi kritisrakyat kecilsastra sosial politik
ShareTweetSendShare
Previous Post

Ketua DPD PA GMNI Lampung Dorong Sahabat Marinda 54 Bergerak Nyata untuk Kepentingan Rakyat

Next Post

Nasdem-Gerindra Senyap, PKS Berani Tindak Lanjut Skandal Jual Beli Modul SMA Siger

Next Post
Nasdem-Gerindra Senyap, PKS Berani Tindak Lanjut Skandal Jual Beli Modul SMA Siger

Nasdem-Gerindra Senyap, PKS Berani Tindak Lanjut Skandal Jual Beli Modul SMA Siger

Masa Depan Perumahan di Lampung: Tantangan, Peluang, dan Strategi Komprehensif

Masa Depan Perumahan di Lampung: Tantangan, Peluang, dan Strategi Komprehensif

Lapas Kalianda Tebar Kepedulian: Aksi Nyata Bantu Warga Sekitar Lewat Bakti Sosial

Lapas Kalianda Tebar Kepedulian: Aksi Nyata Bantu Warga Sekitar Lewat Bakti Sosial

Bingung! Pusat Pangkas TKD Lampung 580 Miliar, Tapi Sekolah Swasta Masih Gigit Jari

Bingung! Pusat Pangkas TKD Lampung 580 Miliar, Tapi Sekolah Swasta Masih Gigit Jari

SMA Negeri 1 Kebun Tebu Sukses Gelar Try Out Digital untuk Persiapan UTBK-SNBT 2026 dan TKA 2025

SMA Negeri 1 Kebun Tebu Sukses Gelar Try Out Digital untuk Persiapan UTBK-SNBT 2026 dan TKA 2025

Berita Populer

  • Hobi Mancing? Berikut Doa Memancing Ikan agar Hasilnya Melimpah

    Hobi Mancing? Berikut Doa Memancing Ikan agar Hasilnya Melimpah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adik Umar Ahmad Maju di Pilkada Tubaba 2024: Kandidat Paling Kuat Menurut Sejumlah Pihak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Belajar dari Kegagalan: 10 Kesalahan Umum Pebisnis Pemula dan Cara Menghindarinya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Intrapreneur vs Entrepreneur: Apa Bedanya?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Makan Bergizi Gratis! Strategi Pemerintah Ciptakan Generasi Sehat dan Cerdas di Lampung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Berita Terkini

Polemik FKKS Lampung Tengah: Dialog Dibuka, Klarifikasi Ketua MKKS Dinanti

Polemik FKKS Lampung Tengah: Dialog Dibuka, Klarifikasi Ketua MKKS Dinanti

October 9, 2026
Temuan Artefak dan Cerita Metafisik Warnai Penelusuran Situs Bersejarah di Bandar Lampung

Temuan Artefak dan Cerita Metafisik Warnai Penelusuran Situs Bersejarah di Bandar Lampung

October 8, 2026
Sastra dari Bandar Lampung Menembus Eropa, Montana Karya Muhammad Alfariezie Tercatat di Leiden

Sastra dari Bandar Lampung Menembus Eropa, Montana Karya Muhammad Alfariezie Tercatat di Leiden

October 5, 2026
Jangan Lupakan Akar Budaya, SMK Mathla’un Nur Hidupkan Semangat Melestarikan Batik

Jangan Lupakan Akar Budaya, SMK Mathla’un Nur Hidupkan Semangat Melestarikan Batik

October 4, 2026
Bayu Teguh Pranoto Perkuat Keahlian Mediasi, Tekankan Pentingnya Menjaga Persaudaraan PSHT

Bayu Teguh Pranoto Perkuat Keahlian Mediasi, Tekankan Pentingnya Menjaga Persaudaraan PSHT

October 1, 2026
Pantaufinance.com

Portal berita online yang menghadirkan informasi terkini seputar dunia keuangan, investasi, pasar modal, dan berbagai topik terkait ekonomi global dan lokal. Sebagai sumber informasi yang terpercaya, kami berkomitmen untuk menyajikan berita-berita terkini dengan akurat, cepat, dan mendalam.

  • Redaksi
  • Tentang Kami

© 2024 Pantaufinance.com - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Berita Keuangan
    • Keuangan Pribadi
    • Pendidikan Keuangan
    • Teknologi Keuangan
  • Bisnis dan Kewirausahaan
  • Infrastruktur
  • Investasi
  • Network
  • Indeks

© 2024 Pantaufinance.com - All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In