• Redaksi
  • Tentang Kami
Monday, June 15, 2026
  • Login
Pantaufinance.com
Advertisement
  • Beranda
  • Berita
  • Berita Keuangan
    • Keuangan Pribadi
    • Pendidikan Keuangan
    • Teknologi Keuangan
  • Bisnis dan Kewirausahaan
  • Infrastruktur
  • Investasi
  • Network
  • Indeks
No Result
View All Result
Pantaufinance.com
  • Beranda
  • Berita
  • Berita Keuangan
    • Keuangan Pribadi
    • Pendidikan Keuangan
    • Teknologi Keuangan
  • Bisnis dan Kewirausahaan
  • Infrastruktur
  • Investasi
  • Network
  • Indeks
No Result
View All Result
Pantaufinance.com
No Result
View All Result
  • Indeks
  • Berita Keuangan
  • Bisnis dan Kewirausahaan
  • Investasi
  • Keuangan Pribadi
  • Pendidikan Keuangan
  • Teknologi Keuangan
Home Berita

Setiap Musim Hujan Ceritanya Sama, Warga Enggal Hidup dalam Bayang-Bayang Banjir

MeldabyMelda
June 15, 2026
in Berita
A A
Setiap Musim Hujan Ceritanya Sama, Warga Enggal Hidup dalam Bayang-Bayang Banjir
ADVERTISEMENT

PANTAU FINANCE- Setiap kali hujan deras mengguyur Kota Bandar Lampung, warga Kelurahan Tanjung Karang, Kecamatan Enggal, RT 07 kembali dihantui ketakutan yang sama. Air meluap, rumah terendam, harta benda rusak, dan harapan perlahan hanyut bersama arus banjir yang seolah menjadi agenda tahunan tanpa penyelesaian.

Seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan mengaku kecewa karena selama bertahun-tahun tidak melihat langkah konkret dari Pemerintah Kota Bandar Lampung dalam mengatasi persoalan banjir yang terus berulang.

“Kalau banjir datang, kami cuma disuguhi bantuan yang tidak sebanding dengan kerugian yang kami alami. Rasanya seperti dianak-tirikan,” ujarnya.

BeritaTerkait

Mengapa Puisi Muhammad Alfariezie Disebut Mewakili Gaya Kritik Lampung?

Eva Dwiana Disorot, Publik Bandingkan Polemik Yayasan Siger dengan Kasus Arinal Djunaidi

Kebijakan Pendidikan Daerah Jadi Sorotan, Publik Minta Evaluasi Menyeluruh

Kekecewaan warga semakin dalam ketika membandingkan perlakuan pemerintah terhadap wilayah lain. Saat banjir besar melanda Tanjung Senang pada bulan Ramadan, warga setempat menerima bantuan hingga Rp1 juta per keluarga. Sementara di Enggal, yang menurut warga mengalami kerusakan dengan tingkat keparahan yang sama, tidak mendapatkan bantuan apa pun.

“Waktu banjir bulan puasa di Tanjung Senang dapat bantuan satu juta rupiah. Tempat kami yang sama parahnya malah tidak dapat apa-apa. Baru setelah banjir berikutnya kami viralkan kondisi di sini, kami dapat Rp500 ribu. Itu pun karena viral. Padahal lurah dan camatnya sama,” ungkap warga dengan nada kecewa.

Pernyataan itu menimbulkan pertanyaan yang sulit diabaikan: apakah bantuan bencana diberikan berdasarkan tingkat penderitaan warga atau berdasarkan tingkat viralnya sebuah peristiwa?

Di tengah keresahan masyarakat yang setiap musim hujan harus berjaga semalaman, warga berharap Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana dan pihak BBWS tidak hanya hadir ketika banjir sudah menjadi berita utama.

Warga menilai pemerintah tidak boleh menunggu jatuhnya korban jiwa sebelum bergerak. Sebab ketika air mulai naik, yang dibutuhkan masyarakat bukan lagi foto penyerahan bantuan atau narasi belas kasihan, melainkan pembangunan drainase, normalisasi sungai, pelebaran saluran air, dan kebijakan nyata yang dapat mencegah banjir datang kembali.

Ironi semakin terasa ketika kritik keras datang dari politikus senior Lampung, Ferdi Gunsan, yang membongkar jejak janji politik Eva Dwiana sejak Pilkada 2019.

Dalam debat kampanye kala itu, Eva Dwiana pernah menyampaikan berbagai solusi untuk mengatasi banjir.

“Nanti kalau saya jadi wali kota, akan saya ambil solusinya, gimana caranya nanti supaya tidak banjir lagi. Talud akan kita perbesar, beronjong akan kita lakukan.”

Namun setelah dua periode kepemimpinan berjalan, banjir masih menjadi langganan Kota Bandar Lampung.

Ferdi bahkan menyindir pernyataan Eva Dwiana yang justru meminta berbagai pihak memberikan solusi ketika banjir kembali melanda.

“Nah ibu ini nanya solusinya kayak apa. Ini nanya lagi, nanya lagi. Waduh, ini wali kota atau gimana ini?” kata Ferdi dengan nada satire.

Menurutnya, seorang wali kota seharusnya menjadi pihak yang menawarkan solusi, bukan justru bertanya kepada publik mengenai solusi yang harus dilakukan.

Kritik Ferdi semakin tajam ketika menyinggung anggaran penanganan bencana yang disebut hanya sekitar Rp600 juta, sementara Pemkot Bandar Lampung mampu menghibahkan Rp60 miliar untuk pembangunan gedung baru Kejati Lampung.

“Dana bencana Rp600 juta itu cuma satu persen dari Rp60 miliar hibah. Pilih mana rakyat Bandar Lampung? Pilih hibah gedung atau pilih menangani banjir?” ujarnya.

Pertanyaan itu kini menggema di tengah genangan air yang masih menghantui banyak sudut kota.

Karena pada akhirnya, warga tidak sedang menagih bantuan Rp500 ribu atau Rp1 juta. Mereka sedang menagih janji yang pernah diucapkan di depan publik. Mereka sedang menagih hak untuk hidup aman di kotanya sendiri.

Dan jika setelah tujuh tahun sejak janji itu disampaikan banjir masih datang dengan cerita yang sama, maka publik berhak bertanya:

Yang belum ditemukan sebenarnya solusi banjirnya, atau kemauan politik untuk menjalankannya.***

Source: ALFARIEZIE
Tags: BandarLampungBanjirBanjirBandarLampungEnggalEvaDwianaLAMPUNGTanjungKarang
ShareTweetSendShare
Previous Post

Eva Dwiana Disorot, Publik Bandingkan Polemik Yayasan Siger dengan Kasus Arinal Djunaidi

Next Post

Mengapa Puisi Muhammad Alfariezie Disebut Mewakili Gaya Kritik Lampung?

Next Post
Mengapa Puisi Muhammad Alfariezie Disebut Mewakili Gaya Kritik Lampung?

Mengapa Puisi Muhammad Alfariezie Disebut Mewakili Gaya Kritik Lampung?

Berita Populer

  • Hobi Mancing? Berikut Doa Memancing Ikan agar Hasilnya Melimpah

    Hobi Mancing? Berikut Doa Memancing Ikan agar Hasilnya Melimpah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adik Umar Ahmad Maju di Pilkada Tubaba 2024: Kandidat Paling Kuat Menurut Sejumlah Pihak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Belajar dari Kegagalan: 10 Kesalahan Umum Pebisnis Pemula dan Cara Menghindarinya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Makan Bergizi Gratis! Strategi Pemerintah Ciptakan Generasi Sehat dan Cerdas di Lampung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Intrapreneur vs Entrepreneur: Apa Bedanya?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Berita Terkini

Mengapa Puisi Muhammad Alfariezie Disebut Mewakili Gaya Kritik Lampung?

Mengapa Puisi Muhammad Alfariezie Disebut Mewakili Gaya Kritik Lampung?

June 15, 2026
Setiap Musim Hujan Ceritanya Sama, Warga Enggal Hidup dalam Bayang-Bayang Banjir

Setiap Musim Hujan Ceritanya Sama, Warga Enggal Hidup dalam Bayang-Bayang Banjir

June 15, 2026
Eva Dwiana Disorot, Publik Bandingkan Polemik Yayasan Siger dengan Kasus Arinal Djunaidi

Eva Dwiana Disorot, Publik Bandingkan Polemik Yayasan Siger dengan Kasus Arinal Djunaidi

June 15, 2026
Kebijakan Pendidikan Daerah Jadi Sorotan, Publik Minta Evaluasi Menyeluruh

Kebijakan Pendidikan Daerah Jadi Sorotan, Publik Minta Evaluasi Menyeluruh

June 15, 2026
Opini WTP Pemkot Bandar Lampung Kembali Jadi Perbincangan, KPK Didorong Bertindak

Opini WTP Pemkot Bandar Lampung Kembali Jadi Perbincangan, KPK Didorong Bertindak

June 14, 2026
Pantaufinance.com

Portal berita online yang menghadirkan informasi terkini seputar dunia keuangan, investasi, pasar modal, dan berbagai topik terkait ekonomi global dan lokal. Sebagai sumber informasi yang terpercaya, kami berkomitmen untuk menyajikan berita-berita terkini dengan akurat, cepat, dan mendalam.

  • Redaksi
  • Tentang Kami

© 2024 Pantaufinance.com - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Berita Keuangan
    • Keuangan Pribadi
    • Pendidikan Keuangan
    • Teknologi Keuangan
  • Bisnis dan Kewirausahaan
  • Infrastruktur
  • Investasi
  • Network
  • Indeks

© 2024 Pantaufinance.com - All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In