Jakarta, Pantau Finance – Kurs rupiah di pasar spot menunjukkan penguatan yang perkasa sebesar 0,15% ke level Rp 15.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Pengamat komoditas dan mata uang, Lukman Leong, menyatakan bahwa rupiah dan mata uang lainnya secara umum menguat terhadap dolar AS akibat sentimen “risk on” di pasar. Investor merespons pernyataan dari bos The Fed, Jerome Powell, dalam pertemuan FOMC semalam, yang dianggap sebagai sinyal kenaikan suku bunga terakhir dalam siklus kenaikan.
Lukman menilai perhatian investor akan beralih pada data PDB kuartal II AS yang akan dirilis malam ini, serta data inflasi PCE AS. Diperkirakan data PDB AS akan tumbuh lebih lambat sebesar 1,8% secara kuartalan dibandingkan dengan 2% di kuartal sebelumnya.
Menurut Senior Economist KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana, rupiah berpotensi menguat terbatas. Pergerakan kurs rupiah akan dipengaruhi oleh hasil ECB rate yang akan keluar nanti malam, yang berdampak pada USD Index. Jika USD Index turun ke level 100-an, maka akan berdampak positif bagi rupiah. Namun, kenaikan sebesar 50bps dari ECB dapat menyebabkan USD Index lebih rendah sehingga rupiah dapat terdepresiasi.
Fikri memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 14.920 – Rp 15.120 per dolar AS, sementara Lukman memproyeksikan pergerakan rupiah pada level Rp 14.925 – Rp 15.050 per dolar AS. Perkembangan berikutnya akan sangat dipengaruhi oleh data PDB AS dan hasil ECB rate yang akan keluar dalam waktu dekat.








