Jakarta, Pantau Finance – Pada perdagangan hari ini, Jumat (28/7), nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Kurs rupiah spot terpantau melemah sebesar 0,7% menjadi Rp 15.105 per dolar AS, dibandingkan dengan posisi kemarin yang sebesar Rp 15.000 per dolar AS.
Tercatat bahwa dalam sepekan terakhir, kurs rupiah spot telah mengalami pelemahan sebesar 0,52%, dimulai dari angka Rp 15.027 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat sebelumnya, yakni tanggal 21 Juli.
Pelemahan nilai tukar rupiah hari ini tercatat sebagai yang terbesar sejak Maret 2023. Salah satu faktor yang menjadi pemberat bagi rupiah adalah munculnya kembali aturan devisa hasil ekspor (DHE) yang berpotensi memberikan dampak besar. Diperkirakan aturan ini dapat membawa masuk dana hingga US$ 60 miliar per tahun.
Aturan terbaru tersebut ditujukan untuk sumber daya alam yang mengharuskan para eksportir untuk menempatkan 30% dari pendapatan ekspor mereka ke dalam negeri mulai dari tanggal 1 Agustus.
Meskipun aturan ini diberlakukan, analis dari Maybank, Saktiandi Supaat, menyatakan bahwa dampaknya kemungkinan akan terbatas terhadap nilai tukar rupiah. Ini karena suku bunga rupiah saat ini kurang menarik dibandingkan dengan suku bunga dolar AS. Sehingga, perbedaan suku bunga ini mempengaruhi daya tarik investasi di Indonesia dan dapat berdampak pada nilai tukar rupiah.
Selain rupiah, mata uang negara-negara lain juga mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia bahkan melemah sebesar 0,72% terhadap the greenback.
Sementara itu, mata uang dari beberapa negara seperti Taiwan, Filipina, India, Thailand, Jepang, dan Singapura juga mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Sebaliknya, yuan China, won Korea, dan dolar Hong Kong menguat terhadap the greenback.
Pada sisi lain, indeks dolar hari ini justru menguat sebesar 0,19% menjadi 101,96. Indeks ini mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia, dan dalam sepekan terakhir mengalami penguatan sebesar 0,88%.
Situasi ini menunjukkan bahwa pergerakan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal dan internal, termasuk kebijakan devisa ekspor dan perbedaan suku bunga dengan mata uang asing. Investor dan pelaku pasar diharapkan tetap memantau perkembangan terkini untuk mengantisipasi perubahan kondisi yang berdampak pada nilai tukar rupiah ke depannya.








