Jakarta, Pantau Finance – Anak usaha Pertamina, PT Pertamina Geothermal Energy (PGEO), memiliki ambisi besar untuk meningkatkan kapasitas produksi panas bumi hingga mencapai 1.000 megawatt dalam dua tahun mendatang.
Saat ini, kapasitas produksi PGEO sudah mencapai 600 megawatt, dan mereka berfokus untuk menambah 340 megawatt dalam waktu dua tahun ke depan. Dalam rangka mencapai target tersebut, PGEO tengah mendorong dua proyek penting, yaitu pembangunan power plant di Lumutbalai dengan kapasitas 55 megawatt, dan di Hulu Lais dengan total 110 megawatt.
Direktur Keuangan PT Pertamina Geothermal Energy, Nelwin Aldriansyah, menyampaikan keyakinannya bahwa target penambahan 430 megawatt dapat tercapai dalam dua hingga tiga tahun mendatang. Selain berfokus pada proyek yang sedang berjalan, PGEO juga berupaya menambah kapasitas dengan berpartisipasi dalam tender pemerintah. Mereka telah ditunjuk sebagai pemenang tender geo thermal baru untuk berpartisipasi dalam konsesi baru di Way Ratai.
Dengan bergabung dalam konsesi pemerintah, PGEO berharap dapat menambah ekspansi lebih dari 500 megawatt dalam kurun waktu lebih dari 5 tahun sesuai rencana mereka. Ini akan membawa kontribusi besar dalam pengembangan sumber energi panas bumi yang berkelanjutan.
Selain itu, Pertamina Geothermal Energy juga menandatangani nota kesepakatan (MoU) dengan PT Pembangunan Aceh (PEMA) dan melakukan kerja sama dengan Chevron New Energy International untuk South Sumatera Grid Resources Confirmation sebesar 900 MW.
Dalam upaya untuk mengoptimalkan teknologi, PGEO juga menjalin kerjasama dengan PT Kaishan Orka Indonesia dan PT Schlumberger Geophysics Nusantara. Kerjasama ini bertujuan untuk memanfaatkan teknologi binary dan metode steam recovery sebagai langkah strategis dalam pengembangan energi panas bumi.
Dengan komitmen dan upaya nyata ini, PGEO berharap dapat berkontribusi secara signifikan dalam memenuhi kebutuhan energi dan mendukung pembangunan berkelanjutan di Indonesia.






