PANTAU FINANCE- Di tengah kompleksitas dunia modern, kemampuan mengelola uang tidak kalah penting dari membaca dan berhitung. Namun ironisnya, pendidikan keuangan masih jarang menjadi bagian dari kurikulum wajib di sekolah-sekolah Indonesia. Padahal, pemahaman finansial sejak usia dini dapat menjadi bekal penting bagi masa depan anak-anak.
Menurut ekonom dan pendidik, Dr. Widya Lestari, minimnya literasi keuangan di usia muda bisa menjadi akar dari masalah finansial yang menumpuk di masa dewasa. “Banyak orang dewasa terjebak utang atau salah mengambil keputusan keuangan karena tidak pernah diajarkan cara mengelola uang sejak kecil,” ujarnya.
Pendidikan keuangan di sekolah bukan hanya soal menabung atau menghitung uang kembalian. Materi seperti membuat anggaran, memahami nilai uang, mengenal konsep kredit dan investasi, serta pentingnya dana darurat bisa dikenalkan dalam bentuk sederhana dan sesuai usia.
Negara-negara maju seperti Finlandia, Australia, dan Kanada telah menjadikan literasi keuangan sebagai bagian dari pelajaran wajib. Hasilnya, generasi muda di negara-negara tersebut lebih siap secara mental dan praktis dalam menghadapi tantangan ekonomi yang semakin kompleks.
“Anak-anak yang diajarkan tentang uang sejak dini tumbuh menjadi individu yang lebih bertanggung jawab dan cerdas secara finansial,” kata Widya. Ia menambahkan, pendidikan keuangan juga bisa mengurangi risiko generasi muda terjebak dalam gaya hidup konsumtif akibat pengaruh media sosial.
Keterlibatan sekolah, guru, dan orang tua menjadi kunci utama. Dengan integrasi pendidikan keuangan ke dalam pelajaran sehari-hari—baik melalui simulasi sederhana maupun proyek nyata—siswa bisa belajar langsung cara membuat keputusan keuangan yang bijak.
Sudah saatnya pendidikan keuangan tidak lagi dianggap pelajaran tambahan, tetapi menjadi keterampilan hidup yang fundamental.***











