Washington, Pantau Finance – Rabu ini, Bank Sentral Amerika Serikat, yang dikenal sebagai The Fed, diharapkan akan menaikkan suku bunga sebesar 0,25%. Kebijakan ini diproyeksikan sebagai awal dari serangkaian kenaikan suku bunga tambahan hingga akhir tahun 2023. Menurut laporan dari Bloomberg, Ketua The Fed, Jerome Powell, tampaknya akan mendukung kebijakan kenaikan suku bunga ini. Pengumuman mengenai keputusan kebijakan moneternya dijadwalkan akan dilakukan pada Rabu pukul 2:00 siang waktu setempat.
Apabila prediksi tersebut menjadi kenyataan, maka ini akan menjadi kenaikan suku bunga ke-11 yang dilakukan oleh Bank Sentral AS dalam kurun waktu hampir satu setengah tahun terakhir. Akibatnya, suku bunga acuan atau suku bunga fed fund rate akan berada di kisaran 5,25%-5,50%, mencapai level tertinggi dalam 22 tahun terakhir.
Perlu ditekankan bahwa keputusan minggu ini nampaknya tidak akan disertai dengan proyeksi ekonomi dari para pejabat bank sentral. Sebelumnya, proyeksi bulan lalu telah menunjukkan bahwa dua kenaikan suku bunga tambahan akan diperlukan pada tahun 2023 guna membawa inflasi kembali ke target 2%.
Berdasarkan data dari CME Group, pasar memberikan peluang sebesar 99,8% bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga sebesar 0,25% pada hari Rabu. Para pejabat The Fed telah beberapa kali menegaskan bahwa pergerakan suku bunga minggu ini akan menjadi awal dari proses menuju puncak kenaikan suku bunga. Jerome Powell sendiri baru-baru ini menyampaikan argumennya atas kenaikan suku bunga ini berdasarkan data ekonomi terbaru. Dia menyatakan, “Jika melihat data selama kuartal terakhir, terlihat pertumbuhan yang lebih kuat dari perkiraan awal, begitu juga dengan pasar tenaga kerja yang lebih ketat dan inflasi yang lebih tinggi. Hal ini menunjukkan meskipun kebijakan saat ini ketat, namun ini belum cukup ketat.”
Sementara para pejabat The Fed juga telah menyampaikan sinyal yang konsisten mengenai kebijakan kenaikan suku bunga. Presiden The Fed Dallas, Lorie Logan, mengungkapkan pentingnya untuk menindaklanjuti sinyal yang telah disampaikan sejak bulan Juni lalu. Begitu pula dengan Presiden Fed San Francisco, Mary Daly, yang mendukung dua kenaikan suku bunga tambahan tahun ini. “Saya mendukung perlambatan laju pengetatan, namun juga menyadari bahwa kita mungkin akan membutuhkan beberapa kenaikan suku bunga lagi sepanjang tahun ini untuk menurunkan inflasi,” ujar Daly belum lama ini.
Para ekonom Wall Street memperkirakan bahwa pengumuman kenaikan suku bunga yang dijadwalkan pada hari Rabu ini akan menandai berakhirnya siklus kenaikan suku bunga agresif The Fed yang dimulai sejak Maret 2022 lalu. “Serangkaian angka inflasi selama beberapa bulan ke depan akan meyakinkan FOMC untuk membatalkan rencana pengetatan lebih lanjut setelahnya, langkah Fed berikutnya kemungkinan adalah penurunan suku bunga tahun depan,” kata Andrew Hunter, Wakil Kepala Ekonom AS di Capital Economics.
Pada awal bulan ini, data inflasi menunjukkan harga konsumen di bulan Juni naik pada laju paling lambat sejak Maret 2021, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) utama naik 3%. Jika dikeluarkan komponen biaya makanan dan gas, inflasi naik 4,8% dibandingkan tahun sebelumnya. The Fed sendiri menargetkan inflasi sebesar 2%.
Sementara Data Pengeluaran Pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) yang merupakan ukuran inflasi yang lebih disukai oleh The Fed menunjukkan kenaikan harga-harga sebesar 4,6% dibandingkan tahun sebelumnya di bulan Mei.
Luke Tilley, Kepala Ekonom di Wilmington Trust, menyatakan bahwa kebijakan kenaikan suku bunga pada bulan Juli ini sekaligus menandai berakhirnya kampanye kenaikan suku bunga oleh The Fed. Menurutnya, hal ini dipengaruhi oleh data inflasi yang telah menurun dan potensinya akan berada di bawah perkiraan The Fed dalam beberapa bulan mendatang, terutama dengan menurunnya harga sewa yang berdampak pada penurunan inflasi tajam di kuartal terakhir tahun ini. Oleh karena itu, Tilley memproyeksikan kenaikan suku bunga minggu ini sebagai langkah yang terlalu jauh, dan ia berpendapat bahwa “suku bunga saat ini seharusnya sudah mencapai puncaknya.”
Namun, tim ekonomi di Bank of America Global Research, yang dipimpin oleh Michael Gapen, memperkirakan The Fed akan mengikuti perkiraan saat ini. Mereka memproyeksikan bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga minggu ini dan sekali lagi sebelum akhir tahun 2023. “Meskipun kami memperkirakan The Fed akan mempertahankan bias ke atas pada jalur suku bunga kebijakannya, Powell tidak akan banyak bicara mengenai seberapa banyak, dan kapan kenaikan suku bunga kebijakan tambahan akan dilakukan,” kata Gapen. Mereka memproyeksikan bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan September 2023 untuk kenaikan terakhir dalam siklus ini.
Namun, ada pandangan optimis dari Luke Tilley, yang berharap bahwa ekonomi dapat mencapai “soft landing,” di mana inflasi kembali ke target yang diinginkan oleh The Fed tanpa menyebabkan resesi. “Saya berada di sisi yang lebih optimis, karena data inflasi telah turun, bahkan dengan pasar tenaga kerja yang kuat, pendaratan lunak menjadi semakin nyata,” katanya.
Sumber : Bloomberg, CNBC, The Wall Street Journal, The New York Times, The Washington Post, Kontan








