PANTAU FINANCE- Mengawali tahun 2026, penyair senior Isbedy Stiawan ZS meluncurkan buku puisi terbarunya berjudul Kenduri Sumatera. Buku ini menghimpun refleksi sastra atas rangkaian bencana alam yang terjadi di berbagai wilayah Sumatera dan menjadi catatan penting tentang bagaimana tragedi kemanusiaan direspons melalui puisi.
Diterbitkan oleh Siger Publisher, Kenduri Sumatera memuat 29 puisi bertema bencana. Sebagian besar puisi ditulis Isbedy sepanjang Desember 2025 hingga Januari 2026. Hanya empat puisi yang berasal dari tahun 2018, yakni puisi-puisi yang terinspirasi gempa dan tsunami di Lombok, Banten, serta Lampung.
Isbedy menjelaskan bahwa ruh utama buku ini berangkat dari Sumatera. Puisi-puisi tersebut terinspirasi langsung dari berbagai peristiwa bencana, terutama yang terjadi di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh. Wilayah-wilayah itu, menurutnya, menyimpan luka kolektif yang layak dicatat bukan hanya lewat laporan jurnalistik, tetapi juga melalui kesaksian sastra.
“Jadi ruh dari puisi-puisi saya dalam buku ini ada Sumatera. Terinspirasi dari bencana di Sumatera, khusus di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh,” kata Isbedy, Sabtu (3/1/2026).
Namun Kenduri Sumatera tidak hanya berbicara tentang duka dan ratapan. Isbedy juga memasukkan sisi lain dari peristiwa bencana, yakni ironi dan komedi sosial yang kerap muncul di sekitarnya. Ia menyinggung fenomena sejumlah tokoh publik yang hadir ke lokasi bencana sekadar untuk berfoto atau memamerkan empati secara simbolik.
“Semua ada saya rekam. Karena puisi-puisi di buku ini adalah rekaman, catatan, dan kesaksian saya atas musibah di Sumatera dan Indonesia secara umum,” ujarnya.
Gagasan penerbitan buku puisi khusus bencana ini, menurut Isbedy, juga mendapat dorongan dari Lukman Hakim Daldiri. Ia menyarankan agar karya-karya Isbedy yang tersebar dan sebagian tidak terdokumentasi pascabencana Sumatera dihimpun menjadi satu buku, meski dalam format tipis.
Tantangan itu disambut Isbedy dengan serius. Dengan koleksi puluhan puisi yang telah ditulis, ia kemudian memutuskan fokus pada tema bencana sebagai benang merah utama. Hasilnya adalah buku setebal 60 halaman dengan desain sampul dan isi yang digarap oleh Anggi Farhans.
Dalam kata pengantar, Isbedy menegaskan posisinya sebagai penyair yang “bersaksi”. Ia menulis bahwa lewat puisi-puisi dalam Kenduri Sumatera, ia merekam duka, tangis, dan lara Sumatera. Bencana-bencana tersebut, menurutnya, layak dicatat sebagai bagian dari bencana nasional, tidak hanya sebagai angka statistik, tetapi sebagai pengalaman kemanusiaan.
Pemilihan judul Kenduri Sumatera juga memiliki makna simbolik. Kata “kenduri” diambil dari salah satu judul puisi, sementara “Sumatera” berasal dari puisi berjudul Peta Sumatera. Kenduri, merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, bermakna perjamuan atau selamatan yang sarat doa dan kebersamaan, termasuk doa bagi mereka yang telah meninggal.
Selain buku ini, puisi-puisi Isbedy tentang bencana Sumatera juga akan dimuat dalam antologi bersama berjudul Air Mata Sumatera terbitan Komunitas Seni Kuflet Padang Panjang, yang dijadwalkan diluncurkan pada 20 Januari 2026. Isbedy dijadwalkan hadir dan membacakan puisi dalam acara tersebut.
Menariknya, peluncuran Kenduri Sumatera juga membawa misi sosial. Sebagian hasil penjualan buku dan penggalangan dana akan diperuntukkan bagi korban bencana. Dengan demikian, buku ini tidak hanya menjadi karya sastra, tetapi juga bentuk solidaritas nyata bagi mereka yang terdampak.***










