Jakarta, Pantau Finance – Ekosistem industri produksi baterai kendaraan listrik (EV) di Indonesia semakin dekat dengan beberapa pabrik komponen baterai yang sudah beroperasi. Dilansir dari acara “Nickel Conference 2023” CNBC Indonesia, ekosistem baterai EV di Indonesia diproyeksikan terbentuk dalam waktu 1-2 tahun mendatang.
Ekosistem baterai kendaraan listrik dibangun dalam tiga sektor, yaitu hulu (upstream) meliputi industri pertambangan dan metalurgi, tengah (midstream) berisi pabrik atau fasilitas pengolahan dan pemurnian nikel, dan hilir berteknologi tinggi (high-tech downstream) yang mencakup pabrik precursor, katoda, hingga baterai.
Indonesia sebagai salah satu penghasil nikel terbesar di dunia berambisi menjadi ‘raja’ baterai kendaraan listrik melalui program hilirisasi nikel. Beberapa perusahaan tambang nikel terbesar di Indonesia yang mendukung hilirisasi antara lain PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO).
Selain itu, PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) dan PT Resource Alam Indonesia Tbk (KKGI) juga berperan penting dalam ekosistem kendaraan listrik dengan masing-masing target penjualan bijih nikel dan rencana akuisisi perusahaan tambang.
Investasi besar dilakukan oleh PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dalam menggarap proyek nikel mencapai US$ 8,6 miliar, dan PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) menargetkan penjualan bijih nikel sebanyak 1,3 juta ton tahun ini.
Indonesia berusaha menciptakan lingkungan yang mendukung industri kendaraan listrik dan baterai sehingga dapat mendongkrak kinerja emiten-emiten nikel di Bursa Efek Indonesia dan mendorong kenaikan harga sahamnya. Mimpi Indonesia menjadi raja baterai kendaraan listrik semakin mendekati kenyataan.









