• Redaksi
  • Tentang Kami
Saturday, October 17, 2026
  • Login
Pantaufinance.com
Advertisement
  • Beranda
  • Berita
  • Berita Keuangan
    • Keuangan Pribadi
    • Pendidikan Keuangan
    • Teknologi Keuangan
  • Bisnis dan Kewirausahaan
  • Infrastruktur
  • Investasi
  • Network
  • Indeks
No Result
View All Result
Pantaufinance.com
  • Beranda
  • Berita
  • Berita Keuangan
    • Keuangan Pribadi
    • Pendidikan Keuangan
    • Teknologi Keuangan
  • Bisnis dan Kewirausahaan
  • Infrastruktur
  • Investasi
  • Network
  • Indeks
No Result
View All Result
Pantaufinance.com
No Result
View All Result
  • Indeks
  • Berita Keuangan
  • Bisnis dan Kewirausahaan
  • Investasi
  • Keuangan Pribadi
  • Pendidikan Keuangan
  • Teknologi Keuangan
Home Berita

Menatap Masa Depan Unila, Budiyono Angkat Pentingnya Kolaborasi Alumni dan Masyarakat

MeldabyMelda
October 17, 2026
in Berita
A A
Menatap Masa Depan Unila, Budiyono Angkat Pentingnya Kolaborasi Alumni dan Masyarakat
ADVERTISEMENT

PANTAU FINANCE- Dari cita-cita para perintis yang membangun universitas untuk masyarakat Lampung, menuju harapan agar Unila semakin dekat dengan alumni, daerah, dan persoalan nyata rakyat.

Sejarah sebuah universitas tidak hanya tersimpan dalam dokumen pendirian, gedung perkuliahan, atau nama-nama tokoh yang pernah memimpinnya. Sejarah juga hidup dalam hubungan yang dibangun dengan masyarakat, kepercayaan yang tumbuh dari waktu ke waktu, serta manfaat ilmu pengetahuan yang benar-benar dirasakan oleh rakyat.

Semangat itulah yang kembali relevan ketika Universitas Lampung (Unila) memasuki tahapan penting menjelang pemilihan rektor periode 2027–2031.

BeritaTerkait

Alumni Sulit Akses Birokrasi Kampus, Budiono Ingin Unila Lebih Terbuka

1. Tak Ada Toleransi untuk Jual Beli Jabatan, Ini Pesan Bupati Tanggamus kepada 47 Kepala Sekolah

Polemik Ketua MUI Lampura dan Kasus Santriwati, Panji Minta Semua Dugaan Diusut

Di tengah dinamika tersebut, Dr. Budiyono, S.H., M.H., akademisi Fakultas Hukum Unila sekaligus alumnus universitas ini, mengangkat gagasan untuk memperkuat hubungan kampus dengan masyarakat dan membangun kembali kedekatan dengan para alumninya. Melalui semangat Unila Go Beyond, ia mendorong agar Unila tidak berhenti pada pencapaian yang telah diraih, tetapi terus melangkah untuk memperluas kontribusi dan manfaatnya.

Gagasan itu berangkat dari sebuah pertanyaan mendasar: sejauh mana Unila telah hadir sebagai bagian penting dalam kehidupan masyarakat Lampung?

Kembali pada cita-cita para perintis

Untuk memahami arti penting gagasan tersebut, kita perlu menengok kembali sejarah kelahiran Unila.

Universitas Lampung tidak hadir begitu saja. Kehadirannya merupakan hasil perjuangan berbagai elemen masyarakat yang menginginkan tersedianya pendidikan tinggi di daerah sendiri. Pada masa itu, kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi masih menjadi tantangan bagi banyak keluarga. Kehadiran perguruan tinggi di Lampung diharapkan membuka jalan bagi generasi muda untuk memperoleh pendidikan dan membangun masa depan tanpa harus selalu meninggalkan daerah asalnya.

Gerakan perintisan perguruan tinggi di Lampung mulai berkembang pada 1959. Melalui perjuangan berbagai tokoh dan panitia, fondasi kelembagaan Unila kemudian terbentuk hingga resmi berdiri pada 23 September 1965.

Sejarah tersebut menyimpan pesan yang melampaui tanggal dan peristiwa: universitas ini lahir karena masyarakat membutuhkannya.

Seiring waktu, Unila berkembang menjadi institusi pendidikan tinggi dengan beragam bidang keilmuan. Ribuan lulusan telah menempuh perjalanan akademik di dalamnya, sementara dosen dan peneliti terus menjalankan tugas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Namun, semakin besar sebuah universitas, semakin besar pula tanggung jawabnya. Masyarakat tidak hanya berharap kampus menghasilkan lulusan berkualitas, tetapi juga menghadirkan gagasan, inovasi, dan solusi bagi persoalan daerah.

Menghidupkan kembali semangat para perintis karena itu bukan sekadar mengenang masa lalu. Yang lebih penting adalah menerjemahkan cita-cita mereka ke dalam kebutuhan masyarakat masa kini.

Alumni, kekuatan yang perlu dihubungkan

Salah satu perhatian Budiyono adalah pentingnya memperkuat hubungan antara Unila dan para alumninya.

Alumni merupakan bagian dari modal sosial universitas. Mereka tersebar di berbagai bidang, mulai dari pemerintahan, dunia usaha, pendidikan, hukum, penelitian, hingga organisasi masyarakat. Pengalaman, pengetahuan, dan jaringan profesional mereka berpotensi menjadi sumber pembelajaran sekaligus membuka peluang kolaborasi bagi pengembangan kampus.

Di antara alumni Unila terdapat tokoh yang berkiprah di tingkat lokal maupun nasional, termasuk kepala daerah, anggota legislatif, serta pejabat pemerintahan. Jejaring tersebut menyimpan peluang untuk memperluas kemitraan dan mempertemukan kebutuhan universitas dengan pengalaman para lulusannya.

Sebagai alumnus, Budiyono berupaya membangun komunikasi dengan sejumlah alumni dan tokoh untuk memperluas ruang dialog mengenai masa depan Unila.

Namun, hubungan alumni dan almamater seharusnya tidak berhenti pada pertemuan seremonial atau komunikasi personal. Potensi yang lebih besar dapat diwujudkan melalui sistem kolaborasi yang berkelanjutan.

Alumni, misalnya, dapat berbagi pengalaman dengan mahasiswa, membuka kesempatan magang, membantu pengembangan karier, mendukung penelitian, membangun kemitraan profesional, hingga menghubungkan hasil riset kampus dengan kebutuhan pembangunan daerah.

Dengan pendekatan tersebut, ikatan emosional antara alumni dan almamater dapat berkembang menjadi kekuatan nyata bagi kemajuan pendidikan tinggi.

Kampus harus hadir dalam persoalan masyarakat

Gagasan berikutnya adalah memperkuat kedekatan Unila dengan masyarakat.

Perguruan tinggi tidak hanya memiliki tanggung jawab di ruang kuliah dan laboratorium. Melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi—pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat—kampus memiliki landasan untuk berkontribusi secara langsung terhadap kehidupan sosial.

Masyarakat Lampung menghadapi beragam tantangan, mulai dari pengembangan usaha kecil, peningkatan kualitas pendidikan, penguatan sektor pertanian, pengelolaan lingkungan, hingga peningkatan mutu pelayanan publik. Persoalan-persoalan tersebut membutuhkan pengetahuan, penelitian, inovasi, dan kerja bersama.

Unila memiliki peluang untuk mengambil peran melalui penelitian yang berangkat dari kebutuhan daerah, pendampingan masyarakat, pengembangan teknologi tepat guna, serta kajian ilmiah yang dapat membantu pemerintah dan pemangku kepentingan merumuskan kebijakan.

Dosen dan mahasiswa dapat bekerja bersama masyarakat untuk mengidentifikasi masalah, mengembangkan solusi, dan mengevaluasi dampaknya. Pemerintah daerah, dunia usaha, komunitas, serta organisasi masyarakat sipil dapat menjadi mitra dalam proses tersebut.

Dalam kerangka gagasan Budiyono, kedekatan dengan masyarakat menjadi salah satu ruang yang perlu diperkuat. Kampus diharapkan tidak hanya menjadi tempat orang datang untuk belajar, tetapi juga institusi yang kehadirannya dirasakan ketika masyarakat menghadapi persoalan dan membutuhkan solusi.

Ukuran keberhasilannya bukan semata jumlah kegiatan yang diselenggarakan. Yang lebih penting adalah manfaat yang dihasilkan, kapasitas masyarakat yang meningkat, dan pengetahuan yang benar-benar dapat diterapkan.

Mendengar sebagai awal perubahan

Perubahan kelembagaan yang berkelanjutan tidak cukup dibangun melalui gagasan seorang pemimpin. Perubahan membutuhkan dialog, keterlibatan, dan pemahaman terhadap persoalan yang dihadapi oleh orang-orang di dalam institusi.

Budiyono telah membuka ruang diskusi dan menerima masukan dari alumni, dosen, mantan dosen, serta berbagai kalangan. Dialog tersebut menjadi kesempatan untuk mendengar pandangan mengenai kondisi Unila dan arah pengembangannya ke depan.

Masukan dari kalangan akademisi dapat membantu mengidentifikasi tantangan dalam pengajaran, penelitian, pengembangan karier dosen, dan tata kelola akademik. Sementara itu, pengalaman alumni dan tokoh masyarakat dapat memperluas perspektif mengenai kebutuhan dunia kerja, pembangunan daerah, dan hubungan universitas dengan lingkungan sosialnya.

Proses mendengar menjadi penting karena universitas merupakan institusi dengan beragam kepentingan dan tanggung jawab. Tidak semua persoalan dapat diselesaikan melalui pendekatan yang sama. Setiap usulan juga membutuhkan kajian sebelum diterapkan.

Karena itu, dialog perlu ditindaklanjuti dengan pemetaan masalah, penentuan prioritas, penyusunan program, serta mekanisme evaluasi yang transparan.

Dengan demikian, komunikasi tidak berhenti sebagai pertukaran pendapat, melainkan menjadi bagian dari proses perumusan kebijakan yang melibatkan berbagai pihak.

Unila Go Beyond: melampaui batas, memperluas manfaat

Unila Go Beyond menjadi jargon yang digunakan Budiyono untuk menggambarkan aspirasi pengembangan universitas ke depan.

Frasa tersebut dapat dimaknai sebagai ajakan untuk tidak cepat berpuas diri, terus meningkatkan kualitas, dan memperluas manfaat institusi. Namun, melampaui batas tidak selalu berarti mengejar pencapaian besar yang terlihat dari luar atau berfokus pada pembangunan fisik.

Go beyond juga dapat diwujudkan melalui peningkatan kualitas pelayanan akademik, penguatan budaya riset, keterbukaan tata kelola, perluasan kerja sama produktif, dan penyediaan pengalaman pendidikan yang relevan dengan kebutuhan masa depan mahasiswa.

Bagi masyarakat, semangat tersebut dapat diukur dari kontribusi hasil penelitian dan keahlian sivitas akademika dalam membantu menyelesaikan persoalan nyata.

Bagi alumni, maknanya dapat berupa hubungan yang lebih terbuka dengan almamater, kesempatan berkontribusi, dan kebanggaan terhadap perkembangan universitas.

Bagi mahasiswa dan dosen, semangat itu perlu diwujudkan melalui lingkungan akademik yang mendukung kreativitas, prestasi, kebebasan berpikir yang bertanggung jawab, dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Sementara bagi institusi, gagasan tersebut menuntut arah yang jelas, indikator keberhasilan yang terukur, serta komitmen untuk mengevaluasi setiap program.

Dengan demikian, Unila Go Beyond akan memiliki makna substantif apabila diterjemahkan menjadi program nyata yang hasilnya dapat dinilai dan dipertanggungjawabkan, bukan sekadar slogan komunikasi.

Membangun kembali kebanggaan terhadap almamater

Kecintaan terhadap universitas tidak dapat dibangun hanya melalui kata-kata. Kebanggaan tumbuh ketika mahasiswa mendapatkan pendidikan bermutu, dosen memiliki ruang untuk berkembang, alumni melihat almamaternya terus maju, dan masyarakat merasakan manfaat keberadaan kampus.

Kebanggaan terhadap Unila juga membutuhkan prestasi akademik, integritas kelembagaan, pelayanan yang baik, serta kontribusi yang konsisten bagi pembangunan daerah.

Dalam konteks ini, penguatan hubungan dengan alumni dan masyarakat dapat menjadi bagian dari upaya membangun kembali ikatan emosional terhadap almamater. Hubungan yang terbuka memberi ruang bagi kritik dan masukan, sedangkan kolaborasi yang nyata memperbesar peluang untuk mencapai tujuan bersama.

Bagi Budiyono, gagasan tersebut berkaitan dengan pengalamannya sebagai alumnus yang kembali mengambil bagian dalam dinamika universitas. Melalui komunikasi dengan alumni dan berbagai kalangan, ia berupaya menghimpun pandangan mengenai arah masa depan Unila.

Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa gagasan tersebut dapat diterjemahkan menjadi agenda kelembagaan yang realistis, terbuka terhadap evaluasi, dan sesuai dengan kebutuhan sivitas akademika.

Sebab, kecintaan terhadap almamater yang paling bermakna bukanlah dukungan tanpa kritik, melainkan kesediaan untuk bersama-sama menjaga, mengembangkan, dan memperbaiki institusi.

Menjaga warisan, menyiapkan masa depan

Lebih dari enam dekade setelah berdiri, Universitas Lampung menghadapi tantangan yang berbeda dari masa para perintisnya. Persaingan pendidikan tinggi, perkembangan teknologi, perubahan kebutuhan dunia kerja, kemajuan ilmu pengetahuan, serta tuntutan terhadap transparansi dan mutu pendidikan terus berkembang.

Dalam situasi tersebut, sejarah pendirian Unila tetap relevan sebagai pengingat tentang alasan universitas ini dibangun: membuka kesempatan pendidikan dan memberikan manfaat bagi masyarakat Lampung.

Gagasan Budiyono mengenai penguatan hubungan alumni, kedekatan dengan masyarakat, dan semangat Unila Go Beyond dapat menjadi bagian dari diskusi mengenai arah pengembangan universitas. Namun, nilai akhirnya akan ditentukan oleh bagaimana gagasan tersebut diterjemahkan menjadi kebijakan, bagaimana sivitas akademika dilibatkan, dan bagaimana hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.

Unila tidak harus memilih antara menghormati sejarah dan melakukan pembaruan. Keduanya dapat berjalan beriringan.

Warisan para pendiri menjadi pengingat akan cita-cita awal. Alumni menyediakan jaringan pengalaman dan pengetahuan. Dosen serta mahasiswa menjadi penggerak utama kehidupan akademik. Sementara masyarakat merupakan mitra sekaligus pihak yang berhak merasakan manfaat kemajuan universitas.

Pada akhirnya, kebesaran sebuah universitas tidak hanya ditentukan oleh namanya, tetapi juga oleh arti kehadirannya bagi masyarakat.

Jika Unila Go Beyond hendak menjadi semangat bersama, perjalanan itu perlu dimulai dari komitmen mendasar: menjaga agar Unila tetap dekat dengan cita-cita kelahirannya, sekaligus berani menjawab kebutuhan masa depan.

Sebab, membangun masa depan Unila pada hakikatnya adalah melanjutkan cita-cita masyarakat Lampung yang dahulu memperjuangkan lahirnya universitas ini.***

ShareTweetSendShare
Previous Post

Alumni Sulit Akses Birokrasi Kampus, Budiono Ingin Unila Lebih Terbuka

Berita Populer

  • Hobi Mancing? Berikut Doa Memancing Ikan agar Hasilnya Melimpah

    Hobi Mancing? Berikut Doa Memancing Ikan agar Hasilnya Melimpah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adik Umar Ahmad Maju di Pilkada Tubaba 2024: Kandidat Paling Kuat Menurut Sejumlah Pihak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Belajar dari Kegagalan: 10 Kesalahan Umum Pebisnis Pemula dan Cara Menghindarinya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Intrapreneur vs Entrepreneur: Apa Bedanya?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Makan Bergizi Gratis! Strategi Pemerintah Ciptakan Generasi Sehat dan Cerdas di Lampung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Berita Terkini

Menatap Masa Depan Unila, Budiyono Angkat Pentingnya Kolaborasi Alumni dan Masyarakat

Menatap Masa Depan Unila, Budiyono Angkat Pentingnya Kolaborasi Alumni dan Masyarakat

October 17, 2026
Alumni Sulit Akses Birokrasi Kampus, Budiono Ingin Unila Lebih Terbuka

Alumni Sulit Akses Birokrasi Kampus, Budiono Ingin Unila Lebih Terbuka

October 16, 2026
1. Cegah Dugaan Praktik Berulang, Pro Rakyat Minta Evaluasi Transaksi Buku di Sekolah

1. Cegah Dugaan Praktik Berulang, Pro Rakyat Minta Evaluasi Transaksi Buku di Sekolah

October 16, 2026
1. Tak Ada Toleransi untuk Jual Beli Jabatan, Ini Pesan Bupati Tanggamus kepada 47 Kepala Sekolah

1. Tak Ada Toleransi untuk Jual Beli Jabatan, Ini Pesan Bupati Tanggamus kepada 47 Kepala Sekolah

October 16, 2026
Polemik Ketua MUI Lampura dan Kasus Santriwati, Panji Minta Semua Dugaan Diusut

Polemik Ketua MUI Lampura dan Kasus Santriwati, Panji Minta Semua Dugaan Diusut

October 16, 2026
Pantaufinance.com

Portal berita online yang menghadirkan informasi terkini seputar dunia keuangan, investasi, pasar modal, dan berbagai topik terkait ekonomi global dan lokal. Sebagai sumber informasi yang terpercaya, kami berkomitmen untuk menyajikan berita-berita terkini dengan akurat, cepat, dan mendalam.

  • Redaksi
  • Tentang Kami

© 2024 Pantaufinance.com - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Berita Keuangan
    • Keuangan Pribadi
    • Pendidikan Keuangan
    • Teknologi Keuangan
  • Bisnis dan Kewirausahaan
  • Infrastruktur
  • Investasi
  • Network
  • Indeks

© 2024 Pantaufinance.com - All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In