PANTAU FINANCE- Konflik antara harimau dan manusia di Lampung Barat semakin menggigit, dengan kecemasan warga mencapai puncak saat kantor Balai Perlindungan dan Pelestarian Alam (PPA) Resort Suoh menjadi sasaran pembakaran oleh warga yang frustrasi dengan minimnya respons dari pihak berwenang.
Samanan (41), seorang warga Desa Sukamarga, masih terkenang betapa ia hampir menjadi korban serangan harimau saat sedang bekerja di kebunnya. Meskipun berhasil melarikan diri dengan luka-luka, kejadian itu meninggalkan trauma yang mendalam bagi Samanan dan warga sekitar.
Serangan harimau terhadap manusia bukanlah peristiwa yang jarang terjadi di Lampung Barat. Sebelumnya, dua warga Suoh telah kehilangan nyawa akibat serangan harimau yang mengerikan. Kondisi semakin mencekam ketika harimau mulai muncul di jalan raya, meningkatkan ketakutan di kalangan warga.
Upaya pemerintah dan kepolisian untuk menangani masalah ini belum membuahkan hasil, meskipun penembak jitu dari Taman Safari Indonesia telah dikerahkan. Ketidakpuasan warga terhadap respons yang minim akhirnya mencapai titik kulminasi saat kantor Balai PPA Resort Suoh dibakar oleh warga yang marah.
Kepala Balai TNBBS, Ismanto, menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai upaya, termasuk memasang jebakan dan bekerja sama dengan Taman Safari Indonesia. Namun, para aktivis lingkungan menyoroti akar masalah konflik ini, yaitu hilangnya sumber makanan harimau akibat aktivitas manusia seperti deforestasi, illegal logging, dan perkebunan.
Kritik ini menyoroti pentingnya menjaga keberlangsungan Harimau Sumatera dengan memprioritaskan pelestarian habitatnya. Kondisi ini menekankan urgensi perlindungan terhadap hutan sebagai habitat alami harimau Sumatera.***









