• Redaksi
  • Tentang Kami
Friday, June 26, 2026
  • Login
Pantaufinance.com
Advertisement
  • Beranda
  • Berita
  • Berita Keuangan
    • Keuangan Pribadi
    • Pendidikan Keuangan
    • Teknologi Keuangan
  • Bisnis dan Kewirausahaan
  • Infrastruktur
  • Investasi
  • Network
  • Indeks
No Result
View All Result
Pantaufinance.com
  • Beranda
  • Berita
  • Berita Keuangan
    • Keuangan Pribadi
    • Pendidikan Keuangan
    • Teknologi Keuangan
  • Bisnis dan Kewirausahaan
  • Infrastruktur
  • Investasi
  • Network
  • Indeks
No Result
View All Result
Pantaufinance.com
No Result
View All Result
  • Indeks
  • Berita Keuangan
  • Bisnis dan Kewirausahaan
  • Investasi
  • Keuangan Pribadi
  • Pendidikan Keuangan
  • Teknologi Keuangan
Home Berita

Ketika Tetangga Mendengar Hantaman Tembok, Tapi Tidak Ada yang Bertindak

MeldabyMelda
June 25, 2026
in Berita
A A
Ketika Tetangga Mendengar Hantaman Tembok, Tapi Tidak Ada yang Bertindak
ADVERTISEMENT

PANTAU FINANCE- Keluarga dan pemilik kosan serta warga sekitar akan menjadi pihak yang juga menanggung moral sosial dalam kasus penyekapan perempuan berinisial YTR berusia 29 tahun oleh kekasihnya Taufik Hidayat 30 tahun.

Dari jejak digital yang viral menjelang akhir Juni 2026 ini, peristiwa penyekapan berlangsung di wilayah Cielunyi, Kabupaten Bandung Barat.

Tak main-main, penyekapan diduga berlangsung selama 3 tahun hingga korban luka berat di bagian mata dan terpaksa harus merelakan sebagian bibirnya yang hilang karena pelaku.

BeritaTerkait

Sensus Ekonomi dan Krisis Kepercayaan Publik terhadap Pendataan Pemerintah

IDI Probolinggo Dukung Penegakan Hukum, Namun Tolak Kriminalisasi Dokter

Rakyat Kecil, Harimau, dan Wali Kota: Dunia Puisi Muhammad Alfariezie

Sejak 2023 Hilang Kontak, Keluarga Baru Lapor di Tahun 2026 Pasca-viral

Korban hilang sudah sejak tahun 2023, berdasar keterangan Syahrul Ulum berusia 26 yang merupakan adiknya.

Tragedi ini terindikasi terjadi saat korban mengenal Taufik Hidayat pada konser musik di tahun 2023.

Hubungan asmara yang terjalin sempat terlihat normal, bahkan Tufik pernah berkunjung ke rumah orang tua korban di Rancaekek.

Namun, petaka dimulai setelah kunjungan tersebut. YTR mendadak tidak bisa dihubungi oleh keluarga.

“Iya, langsung semenjak saat itu langsung lost contact aja sama Teteh. Padahal sebelum pacaran, biasanya seminggu sekali itu pulang ke sini, soalnya Teteh kerja di Nabati Pasteur dan ngekos di daerah sana,” ungkap Syahrul kepada wartawan, dikutip dari detikJabar, Selasa (23/6/2026).

“Jadi selama tiga tahun kita nggak dapat kabar. Pernah sekali dapat kabar, katanya ada di Jakarta,” tambahnya.

Pertanyaannya, mengapa keluarga tidak berupaya mencari informasi keberadaan korban di tempatnya bekerja selama waktu bertahun-tahun itu?

Fakta digital berpendapat, Polda Jabar menerima laporan pihak korban pada 12 Juni 2026 setelah menerima Whatss App dari nomor tidak dikenal pada 10 Juni, menginformasikan YTR dalam kondisi darurat di RS Hasan Sadikin Bandung.

Kosan Berdempetan Tapi Tetangga dan Pemilik Tidak Curiga hingga Korban Darurat

Polda Jabar telah mengamankan tersangka Taufik Hidayat pada 23 Juni 2026 setelah melacak transaksi digitalnya yang sempat berpindah-pindah tempat.

Pada Selasa itu juga, tim kepolisian olah TKP di kosan Cileunyi, tempat tragedi yang menyimpan trauma mendalam bagi YTR itu terjadi.

Tempatnya sebagaimana kosan biasa, berdempatan dan hanya satu kamar yang tidak begitu lebar atau luas.

Bagaimana mungkin tetangga kosan atau pemilik tidak merasa curiga ada yang aneh dengan kamar tragedi tersebut? Apalagi saat olah TKP, tercium bau menyengat di sekitar sana.

Lebih lanjut, apa yang menyebabkan YTR tidak berusaha kabur karena jarak jalan raya dari lokasi kosan berkisar 50 meter.

Apa pula yang menyebabkannya tidak berusaha memberontak dengan memecahkan kaca atau berteriak sehingga menciptakan kegaduhan untuk menarik kecurigaan orang-orang?

Istri pemilik kosan, Mulyati— melansir Tribunnews mengatakan, Taufik membayar 600 ribu perbulan karena tinggal berdua dengan korban.

Pengakuannya, Taufik tidak dapat memberikan surat nikah karena berdalih ketinggalan di rumahnya, di bilangan Nagrek.

“Ya iya atuh diperiksa, kalau KTP mah ngasih. Surat nikah nanti katanya mau ke Nagrek dulu, nanti dipotoin, katanya gitu. Istrinya enggak dipeduliin sama keluarga, katanya kasihan,” ungkap Mulyati.

Taufik pun mengaku YTR memiliki kelainan pada mata yang cukup berat.

“Cuma ngomong matanya sakit, mau dibawa berobat ke rumah sakit, harus ada BPJS, harus ada uang sepuluh juta katanya teh, sudah minus 17, sudah enggak ngelihat, bilangnya orang tuanya juga di Jawa gitu,” katanya.

Mulyati pun mengaku sempat mendengar hantaman keras ke tembok dan sempat menggedor kamar penyekapan namun pelaku berdalih tidak terjadi apapun.

Ia juga mengaku, pintu kosan selalu Taufik Hidayat kunci setiap kali meninggalkan korban sendiri di dalamnya.

“Selalu dikunci kalau pergi ke mana-mana, enggak tahu lah takut ada orang atau apa sudah filling, apa gimana-gimana,” ujarnya.

Mulyati pun mengaku penjaga kosan mengetahui Taufik Hidayat suka mabuk dan sering meminta diantar untuk mengambil uang dan membeli makanan.

“Kalau tiap abis mabuk tuh, kalau itu teh suka minta pingin dianter ngambil uang lah ke BCA, beli bakso tahu. Kalau sih Resa (penjaga kos) kan iya-iya aja, namanya orang mabuk kan gimana gitu kalau dikerasin,” ungkapnya.

Apakah Mulyati dan Resa atau tetangga kosan tidak curiga atas rentetan temuan itu?
1. Taufik tidak dapat menyerahkan surat nikah yang seharusnya ini menjadi perhatian serius aparatur tingkat RT RW sehingga secara tak langsung mengasumsikan tinggal berdua tanpa ikatan pernikahan merupakan praktik yang biasa di suatu kosan

2. Mendengar suara hantaman keras tapi tidak berupaya mengecek ke dalam kamar dan kondisi korban

3. Mengetahui korban mengalami sakit namun tidak berupaya berbincang dengan korban

4. Mengetahui pelaku sering mengunci YTR dari dalam, tapi tidak merasa curiga atau ini mencerminkan sikap anti sosial yang biasa terjadi bagi penghuni kosan dan warga Indonesia saat ini?

Pertanyaan dari analisa ini tentu bukan bermaksud menuduh atau menyudutkan Mulyati dan penjaga kos serta tetangga kosan korban.

Pertanyaan dan analisa ini hanya untuk menyadarkan masyarakat betapa pentingnya empati dan simpati kepada sekitar, walau sebatas berbincang dan mengintip kejanggalan.

Bagi keluarga tentu ini pukulan telak, tanpa mengurangi rasa empati dan simpati atas apa yang terjadi, akan tetapi pertanyaan ini wajib dipertanyakan— mengapa selama tiga tahun tidak berupaya mencari tahu keberadaan YTR dan melaporkannya ke polisi?***

Source: ALFARIEZIE
Tags: AnalisisSosialBANDUNGCileunyiEmpatiSosialKasusPenyekapanBandungKekerasanTerhadapPerempuanKepedulianSosialKriminalitasLingkunganMasyarakatPoldaJabarTaufikHidayat
ShareTweetSendShare
Previous Post

Sensus Ekonomi dan Krisis Kepercayaan Publik terhadap Pendataan Pemerintah

Berita Populer

  • Hobi Mancing? Berikut Doa Memancing Ikan agar Hasilnya Melimpah

    Hobi Mancing? Berikut Doa Memancing Ikan agar Hasilnya Melimpah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adik Umar Ahmad Maju di Pilkada Tubaba 2024: Kandidat Paling Kuat Menurut Sejumlah Pihak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Belajar dari Kegagalan: 10 Kesalahan Umum Pebisnis Pemula dan Cara Menghindarinya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Makan Bergizi Gratis! Strategi Pemerintah Ciptakan Generasi Sehat dan Cerdas di Lampung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Intrapreneur vs Entrepreneur: Apa Bedanya?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Berita Terkini

Ketika Tetangga Mendengar Hantaman Tembok, Tapi Tidak Ada yang Bertindak

Ketika Tetangga Mendengar Hantaman Tembok, Tapi Tidak Ada yang Bertindak

June 25, 2026
Sensus Ekonomi dan Krisis Kepercayaan Publik terhadap Pendataan Pemerintah

Sensus Ekonomi dan Krisis Kepercayaan Publik terhadap Pendataan Pemerintah

June 25, 2026
IDI Probolinggo Dukung Penegakan Hukum, Namun Tolak Kriminalisasi Dokter

IDI Probolinggo Dukung Penegakan Hukum, Namun Tolak Kriminalisasi Dokter

June 25, 2026
Rakyat Kecil, Harimau, dan Wali Kota: Dunia Puisi Muhammad Alfariezie

Rakyat Kecil, Harimau, dan Wali Kota: Dunia Puisi Muhammad Alfariezie

June 25, 2026
Literasi Jadi Kunci Kemajuan, Mengapa Anggaran Perpusda Lampung Justru Dipertanyakan?

Literasi Jadi Kunci Kemajuan, Mengapa Anggaran Perpusda Lampung Justru Dipertanyakan?

June 25, 2026
Pantaufinance.com

Portal berita online yang menghadirkan informasi terkini seputar dunia keuangan, investasi, pasar modal, dan berbagai topik terkait ekonomi global dan lokal. Sebagai sumber informasi yang terpercaya, kami berkomitmen untuk menyajikan berita-berita terkini dengan akurat, cepat, dan mendalam.

  • Redaksi
  • Tentang Kami

© 2024 Pantaufinance.com - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Berita Keuangan
    • Keuangan Pribadi
    • Pendidikan Keuangan
    • Teknologi Keuangan
  • Bisnis dan Kewirausahaan
  • Infrastruktur
  • Investasi
  • Network
  • Indeks

© 2024 Pantaufinance.com - All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In