• Redaksi
  • Tentang Kami
Thursday, October 8, 2026
  • Login
Pantaufinance.com
Advertisement
  • Beranda
  • Berita
  • Berita Keuangan
    • Keuangan Pribadi
    • Pendidikan Keuangan
    • Teknologi Keuangan
  • Bisnis dan Kewirausahaan
  • Infrastruktur
  • Investasi
  • Network
  • Indeks
No Result
View All Result
Pantaufinance.com
  • Beranda
  • Berita
  • Berita Keuangan
    • Keuangan Pribadi
    • Pendidikan Keuangan
    • Teknologi Keuangan
  • Bisnis dan Kewirausahaan
  • Infrastruktur
  • Investasi
  • Network
  • Indeks
No Result
View All Result
Pantaufinance.com
No Result
View All Result
  • Indeks
  • Berita Keuangan
  • Bisnis dan Kewirausahaan
  • Investasi
  • Keuangan Pribadi
  • Pendidikan Keuangan
  • Teknologi Keuangan
Home Berita

Muhammad Alfariezie Suguhkan Kritik Berani Lewat Puisi Penuh Satire

MeldabyMelda
March 27, 2026
in Berita
A A
Muhammad Alfariezie Suguhkan Kritik Berani Lewat Puisi Penuh Satire
ADVERTISEMENT

PANTAU FINANCE- Puisi “Program Masuk Surga” karya Muhammad Alfariezie menghadirkan kritik sosial-politik yang tajam melalui permainan absurditas dan ironi.

Secara tematik, puisi ini jelas menyoroti jurang antara janji kebijakan yang “tinggi” dengan realitas masyarakat yang justru tak tersentuh manfaatnya.

Program Masuk Surga

BeritaTerkait

Temuan Artefak dan Cerita Metafisik Warnai Penelusuran Situs Bersejarah di Bandar Lampung

Jangan Lupakan Akar Budaya, SMK Mathla’un Nur Hidupkan Semangat Melestarikan Batik

Bayu Teguh Pranoto Perkuat Keahlian Mediasi, Tekankan Pentingnya Menjaga Persaudaraan PSHT

Kebijakan Garuda berisi program-
program jauh di atas awan yang
musykil kita sentuh

Jangankan seujung kuku, melihat
saja sudah lebih dari masuk surga
maka neraka percaya Garuda
akan memijak tanah halaman kita

Hapus! Lebih bagus menusuk tikus
dengan wacana semut dan kita akan
berkoloni di area semangka

Tidak seperti sekarang hanya gerah
meratap hujan

2026

Sejak bait awal, frasa “program-program jauh di atas awan” menjadi metafora yang kuat. “Garuda” di sini bisa dibaca sebagai simbol negara, kekuasaan, atau elite pemerintahan—sesuatu yang megah, tetapi terlampau tinggi untuk dijangkau rakyat.

Selain itu, Garuda merupakan hewan yang sejauh ini hanya menjadi khayalan.

Imaji “awan” mempertegas jarak itu: kebijakan bukan hanya sulit diakses, tapi hampir mustahil disentuh. Bahkan, penyair menyindir bahwa “melihat saja sudah lebih dari masuk surga”—sebuah hiperbola yang menyiratkan betapa tidak realistisnya janji tersebut.

Kontras tajam muncul pada larik “maka neraka percaya Garuda akan memijak tanah halaman kita”. Ini ironi yang cerdas: “neraka” (simbol penderitaan rakyat) justru “percaya” pada sesuatu yang tidak pernah benar-benar hadir.

Ada semacam kritik terhadap kepercayaan publik yang terus dipelihara, meski berulang kali dikhianati.
Masuk ke bagian tengah, puisi ini menjadi semakin absurd dengan diksi seperti “menusuk tikus dengan wacana semut” dan “berkoloni di area semangka”. Ini bukan sekadar permainan bahasa, melainkan bentuk satire.

Tikus sering diasosiasikan dengan masalah besar (korupsi, misalnya), sementara “semut” adalah hal kecil dan remeh—artinya, masalah besar ditangani dengan cara yang tidak relevan.

Sementara “area semangka” memberi kesan utopis sekaligus konyol, seolah solusi yang ditawarkan justru membawa masyarakat ke ruang yang tidak masuk akal.

Penutup puisi “Tidak seperti sekarang hanya gerah meratap hujan” memperlihatkan kondisi stagnan: rakyat tidak hanya menderita, tetapi juga terjebak dalam siklus keluhan tanpa perubahan nyata.

“Gerah” dan “hujan” adalah dua kondisi yang bertolak belakang, namun disatukan—menandakan kekacauan situasi sosial yang tidak logis.

Secara keseluruhan, kekuatan puisi ini terletak pada:
• Gaya bahasa satir dan absurd yang mengingatkan pada tradisi kritik sosial modern
• Metafora simbolik (Garuda, surga, neraka) yang mengandung lapisan makna politik
• Imaji paradoksal yang menggambarkan realitas yang kacau dan tidak sinkron

Namun, justru karena tingkat absurditasnya tinggi, puisi ini menuntut pembaca untuk aktif menafsirkan. Bagi pembaca awam, beberapa bagian mungkin terasa “liar” atau sulit dipahami, tetapi di situlah letak daya gugatnya—ia tidak memberi makna secara langsung, melainkan memancing kesadaran.

Singkatnya, karya ini adalah bentuk protes puitik terhadap utopia kebijakan—janji “surga” yang dijual kepada publik, tetapi tak pernah benar-benar turun ke “tanah halaman” rakyat.***

Source: ALFARIEZIE
Tags: analisis puisi indonesiakritik sosial puisimakna puisimuhammad alfarieziepuisi modern indonesiapuisi program masuk surgasatire politik
ShareTweetSendShare
Previous Post

Arah Baru Geopolitik Dunia, NATO dan Iran Diduga Bangun Kesepahaman

Next Post

Polemik Hibah di Bandar Lampung, Akuntabilitas Anggaran Diuji

Next Post
Polemik Hibah di Bandar Lampung, Akuntabilitas Anggaran Diuji

Polemik Hibah di Bandar Lampung, Akuntabilitas Anggaran Diuji

Kasus Way Kanan Uji Kredibilitas Penegakan Hukum di Lampung

Kasus Way Kanan Uji Kredibilitas Penegakan Hukum di Lampung

HUT ke-29 Tanggamus, Pemerintah Fokus Infrastruktur dan Kesejahteraan Masyarakat

HUT ke-29 Tanggamus, Pemerintah Fokus Infrastruktur dan Kesejahteraan Masyarakat

Polemik SMA Siger Berlanjut, Komnas PA Tekankan Pendidikan Tanpa Diskriminasi

Polemik SMA Siger Berlanjut, Komnas PA Tekankan Pendidikan Tanpa Diskriminasi

KemenHAM Turun Tangan, Dugaan Pelanggaran di SMA Siger Diselidiki

KemenHAM Turun Tangan, Dugaan Pelanggaran di SMA Siger Diselidiki

Berita Populer

  • Hobi Mancing? Berikut Doa Memancing Ikan agar Hasilnya Melimpah

    Hobi Mancing? Berikut Doa Memancing Ikan agar Hasilnya Melimpah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adik Umar Ahmad Maju di Pilkada Tubaba 2024: Kandidat Paling Kuat Menurut Sejumlah Pihak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Belajar dari Kegagalan: 10 Kesalahan Umum Pebisnis Pemula dan Cara Menghindarinya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Intrapreneur vs Entrepreneur: Apa Bedanya?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Makan Bergizi Gratis! Strategi Pemerintah Ciptakan Generasi Sehat dan Cerdas di Lampung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Berita Terkini

Temuan Artefak dan Cerita Metafisik Warnai Penelusuran Situs Bersejarah di Bandar Lampung

Temuan Artefak dan Cerita Metafisik Warnai Penelusuran Situs Bersejarah di Bandar Lampung

October 8, 2026
Sastra dari Bandar Lampung Menembus Eropa, Montana Karya Muhammad Alfariezie Tercatat di Leiden

Sastra dari Bandar Lampung Menembus Eropa, Montana Karya Muhammad Alfariezie Tercatat di Leiden

October 5, 2026
Jangan Lupakan Akar Budaya, SMK Mathla’un Nur Hidupkan Semangat Melestarikan Batik

Jangan Lupakan Akar Budaya, SMK Mathla’un Nur Hidupkan Semangat Melestarikan Batik

October 4, 2026
Bayu Teguh Pranoto Perkuat Keahlian Mediasi, Tekankan Pentingnya Menjaga Persaudaraan PSHT

Bayu Teguh Pranoto Perkuat Keahlian Mediasi, Tekankan Pentingnya Menjaga Persaudaraan PSHT

October 1, 2026

Dua Kepala SMK Muhammadiyah Wakili Metro dalam Rakornas Sekolah/Madrasah Muhammadiyah

September 30, 2026
Pantaufinance.com

Portal berita online yang menghadirkan informasi terkini seputar dunia keuangan, investasi, pasar modal, dan berbagai topik terkait ekonomi global dan lokal. Sebagai sumber informasi yang terpercaya, kami berkomitmen untuk menyajikan berita-berita terkini dengan akurat, cepat, dan mendalam.

  • Redaksi
  • Tentang Kami

© 2024 Pantaufinance.com - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Berita Keuangan
    • Keuangan Pribadi
    • Pendidikan Keuangan
    • Teknologi Keuangan
  • Bisnis dan Kewirausahaan
  • Infrastruktur
  • Investasi
  • Network
  • Indeks

© 2024 Pantaufinance.com - All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In