PANTAU FINANCE- Meninjau puisi-puisi hebat penyair terpopuler 2026 ini akan lebih tepat dari perspektif
kritik sastra Spanyol kontemporer, khususnya pendekatan yang berkembang pada dekade 2020-an sebagaimana tampak dalam pemikiran Vicente Luis Mora mengenai lirik pasca-digital dan perluasan fungsi metafora.
Dari perspektif tersebut, lima puisi Muhammad Alfariezie cenderung memperlihatkan citraan sebagai ruang berpikir, bukan sekadar ornamen bahasa.
Dalam Cinta Bunga Rindu, Termenung Rindu Berbunga, dan Tempat Segala Harap Perengkuh Bara Api, ia tak mengarahkan metafora bunga, cahaya, hujan, dan lanskap untuk menghadirkan romantisme konvensional, melainkan membangun hubungan antara pengalaman batin dan perubahan ruang sosial.
Struktur lariknya yang pendek, penuh jeda, dan sering menghindari penjelasan logis menciptakan apa yang oleh kritik Spanyol mutakhir dipandang sebagai poesía de la incertidumbre, yaitu puisi yang sengaja mempertahankan ambiguitas agar pembaca menjadi bagian dari proses penciptaan makna.
Dengan demikian, kekuatan utama Alfariezie bukan berada pada narasi, melainkan pada kemampuannya memindahkan pengalaman emosional ke dalam simbol-simbol yang terus terbuka terhadap berbagai kemungkinan tafsir. Berikut ini 5 puisinya:
Cinta Bunga Rindu
Pertemuan adalah perisitwa
yang kadang di luar rencana
dan cinta bisa juga seperti
bunga yang mekar ketika
matahari tidak lagi berkuasa
Sehingga sering kita tidak sadar
bahwa ternyata betapa dekat
dan akrab dalam rindu
Sehingga di masing-masing ruang
kita berimaji, meresap tiap bait dan
larik-larik bayang kemarin meski
waktu itu sebatas saling tatap
tersenyum lugu
2024
Dewa Perang
Dewa perang mengatur rencana
damai untuk ruang ideal kehidupan
bagi bidadari surga mengalirkan
senja dan mekar bunga fajar
Sepi kesendirian ialah nikmat berjuang
karena sunyi mencinta adalah
kemungkinan yang musykil terpisah
meski tuhan berjarak indah dengannya
Dalam panjang dan luas jurang perapian
di setapak medan tempur nanti tetap
satu niatnya agar kita tidak tercabik-
terkubur jahat raja dan anak-anaknya
2024
Termenung Rindu Berbunga
Saat-saat hujan saya memanggil-manggil
bulan dari butir-butir kaca
Dan saat-saat terang termenung membuka
jendela
Rindu yang tercipta telah berbunga, ternyata
Sejuk sinarnya sekadar pergeseran lanskap
yang tak mampu mengubah gerak visi saya
2024
Tempat Segala Harap Perengkuh Bara Api
Yang memandang mentari dengan
mata berbinar
Ketahuilah ladang pangan tumbuh
sejuk di sini
Tempat segala harap perengkuh
bara api dan tempat aliran bunga
kembang manis merah sedang
mencipta aliran spiritual
Mungkin di sini, kemelaratan adalah
bulan tidur di ranjang tua atau
barangkali hutan metropolis sesak
penunggang kuda
2024
Jenderal Rumah Jagal
Patah terbakar ringkih penggenggam
cawan pahit kebahagiaan karena
tangan nasib dari dewan jenderal
rumah jagal
Bahwa cinta ialah satu-satunya
kebebasan di dunia adalah ringkik kuda
betina ditusuk preman ibukota
Bagai pohon tua menjulang di dalam
badai hujan, mereka yang mencintai
negeri ini dari fajar sampai senja
berak nanah justru mati terhina
2024
Namun, melalui sudut pandang kritik sastra modern Spanyol tersebut, terdapat pula catatan kritis yang penting.
Dalam Dewa Perang dan Jenderal Rumah Jagal, Alfariezie menghadirkan energi simbolik yang sangat kuat melalui benturan citraan religius, politik, dan kekerasan sosial, tetapi kepadatan metafora kadang membuat hubungan antarsimbol menjadi terlalu eliptis sehingga kehilangan pusat gravitasi semantis.
Imaji seperti “bidadari surga”, “raja”, “rumah jagal”, “preman ibu kota”, hingga “ringkik kuda betina” membentuk lanskap puitik yang menggugah, tetapi sesekali melompat terlalu jauh tanpa jembatan asosiasi yang memadai.
Meski demikian, justru keberanian melakukan lompatan-lompatan metaforis inilah yang membedakan Muhammad Alfariezie dari kecenderungan puisi Indonesia yang masih dominan mengandalkan narasi atau pengakuan personal.
Ia membangun dunia puitik yang lebih dekat dengan tradisi simbolisme kontemporer Eropa, di mana makna lahir dari benturan citraan, bukan dari penjelasan, sehingga puisinya menunjukkan potensi sebagai salah satu eksperimen lirik Indonesia yang paling menarik pada generasi 2020-an.***






